Uji Asumsi Klasik

Posted by yupyonline 0 comments
Mengapa Uji Asumsi Klasik penting?

Model regresi linier berganda (multiple regression) dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi Kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). BLUE dapat dicapai bila memenuhi Asumsi Klasik. Sedikitnya terdapat lima uji asumsi yang harus dilakukan terhadap suatu model regresi tersebut, yaitu :
a.  Uji Normalitas
b.  Uji Autokorelasi,
c.  Uji Multikolinieritas
d.  Uji Heteroskedastisitas

e.  Uji Linieritas

Apa Uji Normalitas itu?
Cara yang sering digunakan dalam menentukan apakah suatu model berdistribusi normal atau tidak hanya dengan melihat pada histogram residual apakah memiliki bentuk seperti “lonceng” atau tidak. Cara ini menjadi fatal karena pengambilan keputusan data berdistribusi normal atau tidak hanya berpatok pada pengamatan gambar saja. Ada cara lain untuk menentukan data berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan rasio skewness dan rasio kurtosis.
Rasio skewness dan rasio kurtosis dapat dijadikan petunjuk apakah suatu data berdistribusi normal atau tidak. Rasio skewness adalah nilai skewnes dibagi dengan standard error skewness; sedang rasio kurtosis adalah nilai kurtosis dibagi dengan standard error kurtosis. Sebagai pedoman, bila rasio kurtosis dan skewness berada di antara –2 hingga +2, maka distribusi data adalah normal (Santoso, 2000: 53).

Apa Uji Autokorelasi itu?
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi. Pertama, Uji Durbin-Watson(DW Test). Uji ini hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya intercept dalam model regresi dan tidak ada variabel lag di antara variabel penjelas. Hipotesis yang diuji adalah:
Ho: p = 0 (baca: hipotesis nolnya adalah tidak ada autokorelasi)
Ha: p ≠ 0 (baca: hipotesis alternatifnya adalah ada autokorelasi)
Keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah:
  • Bila nilai DW berada di antara dU sampai dengan 4 – dU maka koefisien autokorelasi sama dengan nol. Artinya, tidak ada autokorelasi.
  • Bila nilai DW lebih kecil daripada dL, koefisien autokorelasi lebih besar daripada nol. Artinya ada autokorelasi positif.
  • Bila nilai DW terletak di antara dL dan dU, maka tidak dapat disimpulkan.
  • Bila nilai DW lebih besar daripada 4 - dL, koefisien autokorelasi lebih besar daripada nol. Artinya ada autokorelasi negatif.
  • Bila nilai DW terletak di antara 4 – dUdan 4- dL, maka tidak dapat disimpulkan.

Apa Uji Multikolinieritas itu?
Ada banyak cara untuk menentukan apakah suatu model memiliki gejala Multikolinieritas, pada modul ini hanya diperkenalkan 2 cara, yaitu VIF dan Uji Korelasi.
Uji VIF
Cara ini sangat mudah, hanya melihat apakah nilai VIF untuk masing-masing variabel lebih besar dari 10 atau tidak. Bila nilai VIF lebih besar dari 10 maka diindikasikan model tersebut memiliki gejala Multikolinieritas.
Partial Correlation
Cara kedua adalah dengan melihat keeratan hubungan antara dua variabel penjelas atau yang lebih dikenal dengan istilah korelasi.

Apa Uji Heteroskedastisitas itu?
Untuk Uji Heteroskedastisitas, seperti halnya uji Normalitas, cara yang sering digunakan dalam menentukan apakah suatu model terbebas dari masalah heteroskedastisitas atau tidak hanya dengan melihat pada Scatter Plot dan dilihat apakah residual memiliki pola tertentu atau tidak. Cara ini menjadi fatal karena pengambilan keputusan apakah suatu model terbebas dari masalah heteroskedastisitas atau tidak hanya berpatok pada pengamatan gambar saja tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Banyak metoda statistik yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu model terbebas dari masalah heteroskedastisitas atau tidak, seperti misalnya Uji White, Uji Park, Uji Glejser, dan lain-lain.
Modul ini akan memperkenalkan salah satu uji heteroskedastisitas yang mudah yang dapat diaplikasikan di SPSS, yaitu Uji Glejser. Uji Glejser secara umum dinotasikan sebagai berikut: 
|e| = b1+ b2 X2 + v
Dimana:
|e| = Nilai Absolut dari residual yang dihasilkan dari regresi model
X2= Variabel penjelas
Bila variabel penjelas secara statistik signifikan mempengaruhi residual maka dapat dipastikan model ini memiliki masalah Heteroskedastisitas.



Cara Mendaftar SNMPTN 2013

Posted by yupyonline 6 comments
Bagi anda yang akan melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Negeri pada tahun ini, pembukaan SNMPTN sudah dibuka dari kemaren. Bagi anda yang sudah mendaftarkan, menemui kendala dimana setelah masuk ke halaman http://snmptn.ac.id dengan memasukkan NISN dan password, kemudian keluar perintah "Anda harus memverifikasi nilai rapor di sistem  PDSS terlebih dulu (http://pdss.snmptn.ac.id)

Silahkan baca panduan lengkap permasalahan diatas (Solusi PDSS 2013)
Silahkanpanduan pengisian form pendaftaran SNMPT (Panduan Form Pengisian SNMPTN 2013)

Uji Coba Model (Validasi)

Posted by yupyonline 0 comments

Uji coba model atau produk bertujuan untuk mengetahui apakah produk yang dibuat layak digunakan atau tidak. Uji coba model atau produk juga melihat sejauh mana produk yang dibuat dapat mencapai sasaran dan tujuan.

Model atau produk yang baik memenuhi 2 kriteria yaitu : (1) kriteria efektivitas dan efisien dan (2) kriteria penampilan (presentation criteria).
Tahapan dalam uji coba produk
1.       Uji Ahli
2.       Uji terbatas dilakukan terhadap kelompok kecil sebagai pengguna produk;
3.       Uji lapangan (field Testing)

Uji Ahli
Expert Judgement atau Pertimbangan Ahli dilakukan melalui : (1) Diskusi Kelompok (group discussion), dan (2) Teknik Delphi.
§  Group discussion, adalah suatu proses diskusi yang melibatkan para pakar (ahli) untuk mengidentifikasi masalah analisis penyebab masalah, menentukan cara-cara penyelesaian masalah, dan mengusulkan berbagai alternatif pemecahan masalah dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia. Dalam diskusi kelompok terjadi curah pendapat (brain storming) diantara para ahli dalam perancangan model atau produk. Mereka mengutarakan pendapatnya sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
§  Teknik Delphi, adalah suatu cara untuk mendapatkan konsensus diantara para pakar melalui pendekatan intuitif.

Langkah-Langkah penerapan Teknik Delphi
1.       Problem identification and specification. Peneliti mengidentifikasi isu dan masalah yang berkembang di lingkungannya (bidangnya), permasalahan yang melatar belakangi, atau permasalahan yang dihadapi yang harus segera perlu penyelesaian.
2.       Personal identification and selection. Berdasarkan bidang permasalahan dan isu yang telah teridentifikasi, peneliti menentukan dan memilih orang-orang yang ahli, manaruh perhatian, dan tertarik bidang tersebut, yang memungkinkan ketercapaian tujuan. Jumlah responden paling tidak sesuai dengan sub permasalahan, tingkat kepakaran (experetise), dan atau kewenangannya.
3.       Questionaire Design. Peneliti menyusun butir-butir instrumen berdasarkan variabel yang iamati atau permasalahan yang akan diselesaikan. Butir instrumen hendaknya memenuhi validitas isinya (content validity). Pertanyaan dalam bentuk open-ended question, kecuali jika permasalahan memang sudah spesifik.
4.       Sending questioner and analisis responded for first round. Peneliti mengirimkan kuesioner pada putaran pertama kepada responden, selanjutnya meriview instrumen dan menganalisis jawaban instrumen yang telah dikembalikan. Analisis dilakukan dengan mengelompokkan jawaban yang serupa. Berdasarkan hasil analisis, peneliti merevisi instrument.
5.       Development of subsequent Questionaires. Kuesioner hasil review pada putaran pertama dikembangkan dan diperbaiki, dilanjutkan pada putaran kedua, dan ketiga. Setiap hasil revisi, kuesioner dikirimkan kembali kepada responden. Jika mengalami kesulitan dan keraguan dalam merangkum, peneliti dapat meminta klarifikasi kepada responden. Dalam teknik delphi biasanya digunakan hingga 3-5 putaran, tergantung dari keluasan dan kekomplekan permasalahan sampai dengan tercapainya konsensus.
6.       Organization of Group Meetings. Peneliti mengundang responden untuk melakukan diskusi panel, untuk klarifikasi atas jawaban yang telah diberikan. Disinilah argumentasi dan debat bisa terjadi untuk mencapai konsensus dalam memberikan jawaban tentang rancangan suatu produk atau intrumen penelitian. Dengan face-to-face contact, peneliti dapat menanyakan secara rinci mengenai respon yang telah diberikan. Keputusan akhir tentang hasil jajak pendapat dikatakan baik apabila dicapai minimal 70% konsensus.
7.       Prepare final report. Peneliti perlu membuat laporan tentang persiapan, proses, dan hasil yang dicapai dalam Teknik Delphi. Hasil Teknik Delphi perlu diujicoba di lapangan dengan responden yang akan memakai model atau produk dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Uji Coba Lapangan Model
Pengujian dapat dilakukan dengan eksperimen
§  Ekperimen lapangan : dilakukan dalam lingkungan alami di mana kegiatan sehari-hari berlangsung
§  Kontrol: faktor pencemar harus dikendalikan
§  Manipulasi variabel bebas/perlakuan (treatment)
Dalam rangka menguji pengaruh kausal dari variabel bebas terhadap varibel terikat diperlukan manipulasi tertentu
§  Pengacakan (randomization)
Setiap unit eksperimen memiliki peluang yang sama untuk menerima perlakuan

Quasi eksperiment
§  Pre test post test desain kelompok eksperimen
O1 X O2 ( X = perlakuan)
Pengaruh perlakuan = O2-O1
§  Kelompok eksperimen dan kontrol hanya post test
X O1
O2
Pengaruh perlakuan = O1-O2

True experiment
§  Pre dan post test desain kelompok eksperimen dan kontrol
O1 X O2
O3 O4 (kontrol)
Pengaruh perlakuan = (O2-O1)-(O4-O3)

Subyek Uji Coba Model
Subyek uji coba atau sampel untuk uji coba, dilihat dari jumlah dan cara memilih sampel perlu dipaparkan secara jelas. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih sampel :
1.       Penentuan sampel yang digunakan disesuaikan dengan tujuan dan ruang lingkup dan tahapan penelitian pengembangan.
2.       Sampel hendaknya representatif, terkait dengan jenis produk yang akan dikembangkan, terdiri atas tenaga ahli dalam bidang studi, ahli perancangan produk, dan sasaran pemakai produk.
3.       Jumlah sampel uji coba tergantung tahapan uji coba tahap awal.

Pengertian dan Macam Validitas Instrumen

Posted by yupyonline 0 comments

Data yang valid dan instrumen penelitian yang valid merupakan hal yang berbeda. Uji validitas instrumen berarti yang di uji validitas nya adalah instrumen penelitiannya. Instrumen penelitian merupakan alat ukur pada penelitian, jadi instrumen yang valid berarti alat ukur penelitian yang digunakan tsb sudah valid (dapat mengukur dengan benar dan semestinya).

Misalnya : untuk mengukur waktu maka alat ukurnya harus benar dan dapat menjalankan fungsi ukurnya dengan tepat. Kalau alat ukurnya sudah menjalankan fungsi ukurnya dengan tepat, maka alat ukurnya sudah valid (contoh alat ukur waktu = jam dinding).
Uji validitas instrumen merupakan salah satu uji yang disyaratkan untuk melihat kualitas dari instrumen penelitian. Pengujian validitas instrumen dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan instrumen penelitian dalam melakukan fungsi ukurnya.

Pengertian validitas instrumen penelitian :
Validitas instrumen didefinisikan sebagai tingkat ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur (instrumen penelitian) dalam melakukan fungsi ukurnya.
Catatan : dalam menentukan validitas, haruslah disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, sebab suatu alat ukur biasanya hanya merupakan ukuran yang valid untuk satu tujuan yang spesifik. Mengenai ini, ada beberapa macam validitas instrumen untuk tujuan spesifik tersebut.

Mengapa uji validitas instrumen diperlukan?
Instrumen yang valid merupakan syarat diperolehnya hasil penelitian (data) yang valid. Walaupun belum tentu juga hasil (data) penelitian akan otomatis valid setelah instrumen dinyatakan valid.

Instrumen penelitian ada yang sudah (standar) sehingga validitasnya sudah diakui. Namun banyak instumen yang digunakan pada penelitian belum teruji validitasnya, oleh karena itulah uji validitas perlu dilakukan.


Uji validitas dibagi menjadi beberapa macam. Macam-macam validitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu validitas internal dan eksternal. Lalu, validitas internal dibagi lagi menjadi validittas isi dan validitas konstruk.



Validitas internal instrumen dikembangkan menurut teori yang relevan, sedangkan validitas eksternal dikembangkan dari fakta empiris yang telah terbukti.



validitas isi (content)
validitas isi menguji ketepatan isi instrumen, yaitu apakah isinya sudah relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan pengukuran.


validitas konstruk (construct)
Validitas konstruk merujuk pada kemampuan instrumen dalam mengungkap suatu trait atau konstruk teoritik yang akan diukurnya. Instrumen mempunyai validitas knstruksi jika dapat digunakan untuk mengukur gejala sesuai dengan definisi. Jadi pada validitas konstruk, harus dibuat terlebih dahulu definisi dari apa yang hendak diukur. Validitas konstruk misalnya digunakan pada instrumen berupa observasi).


Catatan :
Instrumen pada dasarnya dapat berupa tes dan non tes. Validitas untuk tes harus memenuhi validitas isi dan konstruk. Sedangkan untuk instrumen non tes, cukup menggunakan validitas konstruk saja.